Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penerapan Manajemen Persediaan untuk Meningkatkan Laba Perusahaan

Penerapan Manajemen Persediaan untuk Meningkatkan Laba Perusahaan

Manajemen persediaan merupakan suatu departemen dalam perusahaan yang bertanggung jawab untuk mengelola persediaan barang-barang perusahaan. Dari memperoleh inventaris hingga menyimpannya hingga dibutuhkan atau dikeluarkan, semuanya ditangani oleh departemen tersebut.

Pengelolaan persediaan barang yang dilakukan dengan benar akan meningkatkan kinerja perusahaan dan mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya.

Perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian, atau (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling / POAC), merupakan titik awal untuk manajemen persediaan yang baik.

Mengingat pentingnya manajemen persediaan ini, maka kita akan membahasnya dalam ulasan berikut ini. Apa tujuannya? Bagaimana cara menyatukannya. Bahkan dalam kaitannya dengan manajemen lainnya yakni biaya - biaya yang terjadi.

Definisi Persediaan Barang (Inventaris)

Ada perbedaan antara persediaan barang yang digunakan oleh perusahaan perdagangan dan persediaan barang yang digunakan oleh perusahaan manufaktur.

Perbedaannya adalah, perusahaan perdagangan membeli barang dan menjualnya kembali dalam bentuk aslinya. Persediaan adalah barang yang dibeli dengan tujuan untuk dijual kembali. Perusahaan distribusi minuman ringan dan air mineral adalah contoh dari jenis perusahaan perdagangan.

Sedangkan perusahaan manufaktur membeli barang dan membentuknya kembali untuk dijual. Dengan kata lain, barang yang dibeli oleh perusahaan manufaktur akan mengalami proses produksi terlebih dahulu dan menjadi barang yang berbeda sebelum di jual kembali.

Namun demikian, secara umum, frasa tentang persediaan mengacu pada komoditas yang dipelihara untuk dijual kembali. Atau, itu bisa digunakan untuk membuat barang-barang untuk dijual kembali. Persediaan yang disimpan oleh perusahaan manufaktur terdiri dari berbagai macam.

Mengapa Manajemen Inventaris Harus Ada?

Persediaan adalah aset perusahaan yang tidak aktif (idle). Atau dengan kata lain, persediaan adalah aset perusahaan yang tersisa di gudang penyimpanan atau yang sedang menunggu penggunaan (dijual).

Persediaan barang dagangan adalah contoh persediaan (pada perusahaan dagang).

Ada juga banyak bentuk persediaan dalam organisasi manufaktur, seperti persediaan bahan mentah (raw material), barang setengah jadi (work in process / wip), dan barang jadi (finish goods).

Manajemen persediaan terlihat sederhana namun sesungguhnya sangat kompleks. Jika persediaan yang tersedia sangat besar, maka akan mengakibatkan biaya yang tinggi. Mengapa? Karena setiap barang yang disimpan sebagai persediaan tersebut tetap harus dibayar oleh perusahaan.

Disisi lain, jika barang persediaan yang tersedia tidak mencukupi, kegiatan produksi bisa jadi akan terhambat, dan ada risiko kehilangan penjualan dan pelanggan.

Selain itu, ada ketidakpastian seputar waktu pemesanan, pasokan barang dari pemasok, dan permintaan produk dari pelanggan. Barang pecah belah dan benda yang mudah rusak atau busuk, misalnya, memerlukan penanganan yang sangat hati-hati.

Untuk alasan itulah maka manajemen inventaris diperlukan agar supaya bisnis dapat memutuskan jumlah barang persediaan (inventaris) yang tepat dengan mengeluarkan biaya (ongkos) minimal sambil tetap bisa memenuhi permintaan produk jadi dari pelanggan.

Fungsi Manajemen Persediaan (Inventaris)

Ada beberapa fungsi manajemen persediaan (inventaris) bagi perusahaan, antara lain:

  • Menjamin ketersediaan persediaan (safety stock).
  • Mengurangi risiko keterlambatan pengiriman persediaan.
  • Menurunkan risiko fluktuasi harga.
  • Memesan dalam jumlah besar dapat menghemat uang Anda.
  • Pembelian harus dilakukan sesuai dengan jadwal produksi.
  • Variasi penawaran dan permintaan harus diantisipasi.
  • Mempersiapkan permintaan tak terduga.
  • Menjaga jumlah persediaan yang hanya tersedia secara musiman agar perusahaan memiliki persediaan barang pada saat bahan tidak dalam musim.
  • Pesanan persediaan yang tidak sesuai spesifikasi harus diawasi dan dikembalikan ke pemasok.
  • Menjaga komitmen klien agar barang dapat diproduksi tepat waktu dan dengan kualitas yang diinginkan.
  • Hitung jumlah barang yang harus dimiliki untuk berjaga-jaga.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persediaan

Manajemen persediaan mempertimbangkan beberapa elemen yang dapat berdampak pada tingkat persediaan dari suatu perusahaan, antara lain:

1. Jumlah dana yang tersedia dan ketersediaan dana yang dimiliki berpengaruh signifikan terhadap prioritas pembelian persediaan, menentukan hal-hal yang penting. untuk membeli dan yang bisa menunggu.

2. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan dari saat ditempatkan hingga saat dikirimkan.

3. Semakin sering sesuatu digunakan, maka akan semakin kecil persediaan yang tersedia.

4. Ketahanan persediaan, persediaan dengan umur simpan yang pendek, seperti buah, daging, dan barang sejenis, harus segera dikeluarkan, dijual, atau dimanfaatkan.

Biaya Persediaan (Inventaris)

Anda mungkin tidak akan percaya bahwa hanya dengan memperlakukan persediaan barang di dalam gudang dapat menghasilkan berbagai biaya.

Secara umum, biaya persediaan dibagi menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Harga pesanan Anda (Order Cost)
  2. Biaya penyimpanan (biaya penyimpanan) 
  3. Biaya pengaturan (biaya pengaturan) 
  4. Biaya out-of-pocket (kekurangan bahan)

1. Harga Pesanan Anda (Order Cost)

  • Biaya pemesanan adalah biaya-biaya yang timbul akibat melakukan pemesanan barang (inventory).
  • Biaya ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan sejak pemesanan awal (order placement) sampai dengan barang pesanan diterima di gudang.

Berikut ini adalah beberapa contoh biaya pemesanan:

a. Biaya Komunikasi

Biaya yang timbul akibat kebutuhan komunikasi selama pemenuhan pesanan pembelian. Contohnya adalah biaya penggunaan telepon, biaya faksimili, biaya materai dan surat menyurat (biaya pos) serta biaya komisi (jika komunikasi dilakukan oleh pihak ketiga).

b. Biaya Pengiriman

Biaya pengiriman produk dari lokasi pemasok ke gudang pembeli dikenal sebagai biaya pengiriman. Item - item berikut ini termasuk dalam biaya pengiriman, misalnya biaya transportasi atau ekspedisi, biaya bongkar muat, biaya asuransi untuk pengiriman barang.

Walaupun memang ada situasi di mana hal ini tidak selalu terjadi, karena biaya pengiriman barang ditanggung oleh pihak pemasok.

c. Biaya Pengepakan (Pengemasan)

Tujuan pengepakan (pengemasan) barang adalah untuk memastikan bahwa barang tersebut tiba dalam kondisi baik dan kekurangan atau kerusakan barang diminimalkan. Jangan pernah berpikir enteng tentang biaya pengepakan ini.

Mengapa? Karena ternyata biaya pengepakan bisa mendekati 5% dari harga barang jika barangnya besar dalam jumlah banyak, dan mudah pecah.

Sebagai contoh misalnya, keramik atau furnitur yang mudah tergores, teknik pengemasannya bisa ditumpuk, dimulai dengan mengikat tali, mengemas karton, bungkus plastik, kemudian memasukkannya ke dalam karton, dan terakhir mengemasnya dengan peti kayu.

d. Biaya Pemrosesan Pesanan

Perusahaan terkadang memesan barang, terutama untuk barang yang membutuhkan tingkat presisi dan kualitas yang tinggi, seperti mebel jati atau rotan.

Perusahaan pembeli seringkali mengirim perwakilan ke fasilitas manufaktur pemasok untuk memastikan produk pesanan mereka. Dengan kata lain, sebelum produk pesanan dikirim ke perusahaan, perwakilan perusahaan dikirim akan memeriksa kualitasnya terlebih dahulu.

Ketika jarak yang di tempuh cukup jauh antara pemasok dan perusahaan yang membeli barang maka tentu membutuhkan biaya yang cukup besar. Hal ini biasanya dilakukan dalam perdagangan ekspor-impor atau jual beli.

Sebagai pembeli tentu tidak ingin kualitas barang dikompromikan atau diturunkan setelah dikemas dan dikirim dengan biaya tinggi.

2. Biaya Penyimpanan (Carrying Cost) 

biaya-penyimpanan-persediaan

Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyimpan barang atau bahan (bahan mentah) didalam gudang setelah dipesan. Biaya penyimpanan bervariasi tergantung pada nilai persediaan yang disimpan. 

Berikut ini adalah beberapa contoh biaya penyimpanan, antara lain:

a. Biaya Fasilitas Penyimpanan

Semua biaya yang dikeluarkan sebagai akibat dari fasilitas yang diperlukan untuk menyimpan barang disebut sebagai biaya fasilitas penyimpanan.

Berikut ini adalah beberapa contoh biaya fasilitas penyimpanan, antara lain:

  • Biaya sewa gudang (jika menyewa dan tidak memiliki gudang sendiri)
  • Biaya penerangan 
  • Biaya pengaturan suhu dan kelembaban udara agar komoditas tetap awet, seperti buah dan sayuran, daging, atau bahan makanan lain yang memerlukan pengaturan suhu yang tepat.

Semua biaya yang disebutkan di atas menambah harga listrik.

b. Biaya Asuransi 

Biaya Asuransi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengurangi bahaya dari kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dalam persediaan yang disimpan, seperti kebakaran, banjir, atau keruntuhan karena gempa bumi atau kekuatan besar lainnya.

Dengan asuransi, paling tidak, barang-barang yang terkena bencana tidak mengakibatkan kerugian material yang besar.

c. Biaya Keamanan

Asuransi tidak selalu menanggung kerusakan yang disebabkan oleh pelanggaran keamanan dalam menjaga inventaris perusahaan, seperti pencurian, perampokan, atau perusakan.

Untuk menghindari hal ini, perusahaan harus membayar untuk hal-hal lain seperti memasang kamera cctv, gaji satpam, pembangunan pagar, dan biaya lain yang terkait dengan pengamanan barang.

c. Biaya Keusangan

Persediaan yang dipertahankan terlalu lama bisa menjadi usang atau kehilangan nilai ketika pendapatan perusahaan turun dan perputaran persediaan menjadi sangat lambat.

Sebagai contoh misalnya pakaian dan perlengkapannya, bisa menjadi usang karena perubahan tren mode setelah beberapa bulan disimpan digudang. Busana yang dianggap ketinggalan zaman atau modelnya sudah usang semakin sulit untuk dijual kembali.

Contoh lain adalah barang - barang teknologi seperti Smartphone. Setiap bulan, tipe baru yang lebih canggih dengan kemampuan yang lebih komprehensif membuat stok lama menjadi usang atau "ketinggalan zaman", sehingga mempersulit penjualan kembali.

d. Biaya Penyusutan Persediaan 

Penyusutan dapat terjadi pada persediaan perusahaan maupun aktiva tetap.

Untuk buah, misalnya, semakin lama disimpan, maka akan semakin sedikit bobotnya (per kg/per gram). Contohnya, jika Anda memiliki jeruk yang hanya bertahan beberapa hari, maka berat jeruk akan terus turun jika semakin lama disimpan karena tidak dijual. Seperti kita pahami bahwa buah dinilai dalam berat per kilogram, jika beratnya turun maka nilainya juga otomatis akan berkurang.

Contoh lain adalah pengurangan jumlah tempat tinggal yang tersedia untuk pengembang. Rumah merupakan perbekalan bagi pengembang yang usahanya menjual rumah. Meskipun harga tanah bisa naik, struktur rumah yang sebenarnya pasti akan terdepresiasi.

Apakah cat, kusen, pintu, atau dekorasi lainnya? Pada akhirnya, pengembang bertanggung jawab atas perbaikan rumah yang tidak terjual.

e. Biaya penurunan harga 

Biaya penurunan harga sering terjadi pada saat harga barang bergejolak (berfluktuasi).

Misalnya, ketika perusahaan membeli beras, harga per kilogramnya adalah Rp. 12.000. Beras tersebut kemudian disimpan di gudang untuk jangka waktu tertentu karena belum dijual atau karena memang sengaja tidak dijual.

Namun saat akan dijual kembali, ternyata harga beras di pasaran turun, dan beras itu hanya bernilai Rp. 11.500 per kg.

Artinya, ada selisih Rp. 500 per kg, dan itu adalah kerugian bagi perusahaan. Kerugian ini merupakan biaya penurunan harga yang tidak dapat dihindari.

f. Perhitungan Fisik dan Biaya Konsolidasi Laporan

Ternyata menghitung persediaan secara fisik saja bisa menghabiskan banyak uang (biaya).

Jika persediaan barang hanya di satu gudang kecil, tentu biaya penghitungan yang terjadi tidak terlalu besar. Namun, jika jumlah persediaan barang mencapai puluhan ribu, tentu diperlukan ukuran gudang yang lebih besar.

Dan itu adalah masalah yang berbeda. Jelas, perhitungan fisik memerlukan lebih banyak personel, sehingga biaya yang harus dikeluarkan perusahaan menjadi semakin besar pula.

g. Biaya Penanganan Persediaan

Setiap bentuk persediaan memerlukan pendekatan yang berbeda. Jika persediaan lebih sulit ditangani, seperti produk rapuh atau barang yang mudah rusak seperti buah dan makanan basah, maka biayanya akan lebih tinggi.

Barang pecah belah lebih mahal daripada besi atau paku. Barang pecah belah memerlukan perlakuan khusus, seperti cara mengemas produk, menempatkan barang, menata barang di gudang, mengangkat barang, meletakkan barang di atas alas, dan perlakuan khusus lainnya yang menimbulkan pengeluaran tambahan.

h. Biaya Pembangunan Gudang

Biaya ini jelas, gudang harus diamankan. Personil harus bertugas mengawasi dan mengatur arus barang masuk dan keluar gudang. Untuk itu diperlukan seorang Kepala gudang dan beberapa anak buahnya.

i. Biaya Kerusakan Barang

Ketika barang disimpan di dalam gudang, barang tersebut dapat rusak sewaktu-waktu. Kerusakan dapat terjadi akibat pengangkatan, penumpukan, dan faktor lainnya yang tidak tepat.

j. Biaya Modal (Cost of Capital)

Biaya modal adalah biaya yang dihitung berdasarkan biaya peluang dari tidak digunakannya dana untuk persediaan untuk kegiatan (investasi) yang lebih menguntungkan.

Persediaan yang disimpan karena kelebihan output biasanya disimpan di gudang. Jika perusahaan hanya membeli persediaan saat dibutuhkan (membeli lebih sedikit), dan tidak ada persediaan yang disimpan, maka biaya penyimpanan dapat dihindari.

Dengan demikian, uang yang seharusnya dihabiskan untuk biaya persediaan dan penyimpanan dapat digunakan untuk usaha yang lebih produktif.

3. Biaya Persiapan (Set up Cost)

Ketika sebuah perusahaan membuat item sendiri atau membutuhkan sumber daya persediaan, maka biaya persiapan (set up cost) kemudian muncul.

Berikut ini adalah beberapa contoh biaya setup, antara lain :

  • Mesin non-operasional
  • Biaya persiapan tenaga kerja langsung
  • Biaya korespondensi
  • Biaya persiapan peralatan dan bahan
  • Biaya penjadwalan

4. Biaya Out-of-Pocket (Kekurangan Bahan)

Biaya kekurangan muncul ketika bahan persediaan tidak tersedia pada saat dibutuhkan.

Misalnya, sebuah perusahaan menerima pesanan, tetapi ketika tiba saatnya untuk membuatnya, ternyata tidak ada bahan baku yang dapat di proses sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan.

Berikut ini adalah beberapa pengeluaran (peluang) yang terkait dengan kekurangan persediaan, antara lain:

a. Penjualan Menurun

Penjualan yang diiklankan sebagai "penawaran" dapat dibatalkan oleh pelanggan jika perusahaan tidak dapat memenuhinya.

Ada peluang yang hilang sebagai akibat dari kegagalan manajemen persediaan, dan ini adalah salah satu jenis kerugian bagi perusahaan.

b. Di Tinggalkan Pelanggan 

Pelanggan dapat pergi dan kemudian membeli ke perusahaan lain karena kekecewaan dan ketidakmampuan untuk ditangani oleh perusahaan.

c. Biaya untuk Pesanan Khusus

Perusahaan terkadang bersikeras untuk memproduksi pesanan bahkan jika persediaan bahan baku rendah atau kehabisan stok untuk menjaga kepuasan pelanggan.

Perusahaan memiliki berbagai pilihan untuk terus memproduksi barang. Untuk memulai, perusahaan mengalihdayakan pekerjaannya ke perusahaan terkait lainnya.

Dengan "melewati" tugas ini, ada bahaya yang mengancam, yaitu perbedaan kualitas produk dan harga yang lebih tinggi daripada jika barang tersebut dibuat sendiri.

Kedua, korporasi membeli bahan mentah dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya. Bisa ke pemasok jangka panjang atau ke sumber baru yang menawarkan harga bahan baku yang lebih baik dan pengiriman yang lebih cepat (tentu saja hal ini menambahkan lebih banyak biaya).

d. Biaya Pengiriman Khusus

Biasanya, perusahaan yang kekurangan bahan mentah dan harus menunggu bahan baku khusus tersedia dan itu akan menyebabkan penundaan proses produksi.

Ada kalanya perusahaan harus menggunakan ekspedisi khusus pengiriman cepat untuk memastikan barang tiba tepat waktu di lokasi pelanggan. Bisa melalui maskapai penerbangan, truk, kapal, atau bentuk transportasi cepat dan mahal lainnya.

Kenaikan biaya pengiriman ini dapat merusak laba perusahaan, atau paling tidak menurunkan pendapatan (keuntungan) perusahaan.

e. Proses Produksi Terganggu 

Produksi mungkin juga terhambat oleh kurangnya sumber daya bahan mentah (bahan baku). Ketika bahan baku kekurangan pasokan, kegiatan produksi terpaksa harus dihentikan sampai bahan baku baru tiba.

Namun, jika waktu yang dihabiskan untuk menunggu bahan baku baru terlalu lama, dan bisa menyebabkan jadwal produksi menyusut.

Ketika bahan baku selesai, toleransi waktu berkurang, dan produksi barang selesai dengan cepat. Karena korporasi mengutamakan manufaktur yang hampir terlambat, produksi barang lain juga terhambat.

f. Gangguan Jadwal Produksi

Jika produksi tidak dapat berjalan sesuai dengan jadwal karena kelangkaan material, ada biaya peluang yang hilang.

Produksi produk atau barang lainnya terganggu sebagai akibat dari jadwal shift. Hal ini dapat berdampak pada jumlah produksi yang dihasilkan, kualitas barang yang dihasilkan, dan biaya komoditas.

Jenis Persediaan Barang

manajemen-persediaan

Berikut ini adalah beberapa jenis persediaan yang terdapat pada perusahaan manufaktur, antara lain:

a. Manajemen Persediaan Bahan Baku dan Penolong 

Bahan baku adalah bahan yang akan digunakan dalam produk akhir dan biayanya dapat dengan mudah ditelusuri.

Bahan pembantu, di sisi lain, adalah komoditas yang merupakan bagian dari produk jadi tetapi kuantitasnya sederhana atau yang biayanya sulit untuk dihitung.

Sebagai contoh bahan baku pada perusahaan beton adalah sebagai berikut:

  • Semen
  • Pasir
  • Batu

Sedangkan bahan pembantunya adalah bahan kimia untuk mengeraskan beton.

b. Factory Supplies

Factory supplies adalah barang yang memiliki fungsi melancarkan proses produksi.

Sebagai contoh misalnya oli mesin dan bahan pembersih mesin.

c. Persediaan Barang Dalam Proses 

Barang dalam proses mengacu pada produk yang sedang dikerjakan (diproses) tetapi belum selesai pada tanggal neraca. Lebih banyak pekerjaan diperlukan sebelum produk dapat dijual.

Di perusahaan manufaktur paving block, misalnya.

Barang yang sudah dicetak tidak bisa langsung dijual karena harus dikeringkan terlebih dahulu sampai memenuhi spesifikasi dan siap digunakan oleh pembeli.

d. Persediaan Barang Jadi 

Barang jadi adalah barang yang telah selesai proses pembuatannya dan siap untuk dijual. Kursi, meja, dan produk siap jual lainnya adalah contoh barang jadi di perusahaan mebel atau furnitur.

Pos-pos yang akan mempengaruhi laporan keuangan, terutama neraca dan laporan laba rugi, adalah persediaan barang-barang di perusahaan perdagangan dan manufaktur.

Akibatnya, persediaan yang disimpan selama periode tertentu harus dibagi menjadi dua kategori, salah satunya dapat dibebankan sebagai beban (harga pokok penjualan / HPP).

Dan mana yang akan tercermin pada laporan laba rugi, dserta mana yang akan menjadi persediaan di neraca karena belum terjual.

Laporan Inventarisasi Barang

Bagaimana pendapat Anda tentang penyajian laporan inventaris? Persediaan termasuk dalam kelompok aset perusahaan, oleh karena itu laporan keuangan berupa laporan posisi keuangan atau neraca. Beban untuk biaya persediaan dilaporkan pada laporan laba rugi.

Sekarang izinkan saya menjelaskan format laporan status keuangan, yang juga dikenal sebagai neraca (balance sheet).

Laporan Posisi Keuangan terdiri dari tiga akun atau pos utama, yaitu :

  • Aset lancar, seperti kas dan setara kas, piutang, persediaan, dan biaya dibayar di muka. Aset lancar dibagi menjadi dua bagian dalam Akun Aset.
  • Tanah, bangunan, mesin, dan kendaraan adalah contoh aset tetap.

Posting untuk Akun/Kewajiban juga dipecah menjadi dua bagian, yaitu:

  • Utang jangka pendek adalah contoh kewajiban lancar.
  • Pinjaman investasi, misalnya, merupakan kewajiban jangka panjang.

Berikut ini adalah contoh akun atau pos ekuitas:

  • Laba ditahan atau keuntungan yang tidak dibagikan disebut sebagai modal disetor.

Akibatnya, persediaan barang termasuk dalam kelompok aset lancar.

Akibatnya, pelacakan persediaan yang tepat akan meningkatkan keakuratan laporan laba rugi dan neraca perusahaan. Laporan laba rugi dan neraca akan terpengaruh jika jumlah persediaan dicatat secara tidak benar atau tidak cukup. Dan hal tersebut memiliki dampak pada periode saat ini dan masa yang akan datang.

Dampak Penyajian Persediaan dalam Laporan Keuangan

Apa pengaruh penyajian persediaan barang dalam laporan keuangan? Jika persediaan akhir terdaftar sebagai terlalu besar karena penetapan harga yang salah.

Apa pengaruh jumlah produk yang terjual versus jumlah barang di gudang? Karena persediaan penutup terlalu besar dan laba terlalu besar, COGS (harga pokok penjualan) terlalu kecil dalam laporan laba rugi tahun berjalan.

Persediaan komoditas dan modal di neraca perusahaan sama-sama sangat besar.

Sementara itu, karena persediaan awal terlalu besar dan keuntungan terlalu kecil, harga pokok penjualan (HPP) pada kuartal berikutnya terlalu tinggi pada laporan laba rugi.

Ketidakakuratan dalam neraca periode sebelumnya telah dilawan oleh kesalahan dalam laporan laba rugi periode berjalan, sehingga neraca menjadi benar (counter balanced).

Skenario lain adalah ketika persediaan akhir dikecilkan dan hutang usaha dan pembelian tidak dicatat pada akhir kuartal.

Jadi, sementara laporan laba rugi untuk tahun berjalan terlalu kecil untuk pembelian, hal itu diimbangi dengan persediaan akhir yang terlalu kecil, menghasilkan laba kotor dan laba bersih yang layak.

Neraca perusahaan berisi banyak uang, tetapi aset lancar dan hutang jangka pendeknya tidak mencukupi.

Persediaan awalnya terlalu kecil pada laporan laba rugi periode berikutnya, tetapi ini diimbangi dengan pembelian yang terlalu besar.

Laba kotor dan laba bersih tepat karena pembelian tahun lalu tercermin dalam tahun ini. Ketidakakuratan tahun lalu pada neraca tidak berpengaruh pada tahun ini.

Manajemen persediaan yang akurat diperlukan untuk memastikan bahwa dua situasi yang tercantum di atas, atau kondisi yang setara, tidak terjadi.

Kesimpulan 

1. Persediaan barang, sering dikenal sebagai inventaris, merupakan aspek penting dari sebuah perusahaan yang membutuhkan perawatan.

2. Pertumbuhan dan perkembangan perusahaan akan sangat terbantu dengan pengelolaan persediaan yang baik dan akurat.

3. Manajemen persediaan yang tidak terorganisir, di sisi lain, akan sangat merusak perusahaan.

4. Pengelolaan persediaan harus dilakukan dari awal proses pembelian hingga akhir penggunaan komoditas.

5. Dalam hal penyimpanan barang dan kontrol kualitas, tidak ada pengecualian.

6. Menerapkan Prosedur Operasi Standar adalah salah satu cara paling efektif untuk menjalankan sistem manajemen inventaris.

Demikianlah ulasan artikel terkait dengan Penerapan Manajemen Persediaan untuk Meningkatkan Laba Perusahaan. Semoga ulasan diatas dapat menambah wawasan dan pengetahuan Anda.

Post a Comment for " Penerapan Manajemen Persediaan untuk Meningkatkan Laba Perusahaan"