Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendekatan Manajemen Persediaan

Pendekatan Manajemen Persediaan

Manajemen persediaan merupakan aspek penting yang harus menjadi perhatian utama bagi para pelaku bisnis. Kita mengenal banyak metode Manajemen Persediaan yang secara umum digunakan oleh perusahaan maupun organisasi saat ini.

Kita dapat mengelola persediaan menggunakan salah satu cara di bawah ini, yang meliputi:

Metode EOQ (Economic Order Quantity / jumlah pesanan ekonomis), MRP (perencanaan kebutuhan material) adalah metode untuk merencanakan kebutuhan material. Metode JIT (just in time) Teknik analisis ABC.

Sekarang mari kita lanjutkan pembahasannya secara lebih detail dalam uraian dibawah ini.

1. Metode EOQ (Economic Order Quantity) 

Metode Economic Order Quantity atau sering dikenal dengan metode EOQ adalah strategi pembelian persediaan berdasarkan jumlah pesanan yang diterima. .

Berikut adalah penjelasannya...

Ketika sebuah perusahaan menerima pesanan produk dengan jumlah, spesifikasi, dan waktu pengiriman yang ditentukan oleh pelanggan. Perusahaan yakin akan persyaratan, spesifikasi, dan harga bahan baku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pesanan.

Contoh:

Sebuah pabrik mebel, misalnya, menerima pesanan 1.000 kursi dengan persyaratan tertentu yang harus diselesaikan dalam waktu tiga bulan.

Setiap kursi, misalnya, membutuhkan 1 kubik kayu mentah dengan dimensi dan ukuran tertentu, seharga Rp 2.000.000 per kubik.

Jika order 1.000 unit, maka kebutuhan kayu mentah sebanyak 1.000 meter kubik dengan biaya Rp 2 miliar.

Jadi, selama tiga bulan ke depan, korporasi bisa memastikan kebutuhan kayu sebanyak 1.000 meter kubik, serta dana Rp 2 miliar.

Jelas berapa banyak yang dibutuhkan dan berapa nominalnya.

Karena perkiraannya benar, bisnis dapat memesan kayu dalam jumlah sekecil mungkin untuk mengurangi biaya persediaan.

Manfaat :

Jika kemudian ternyata tidak ada lagi kayu yang tersedia di pasar mereka masih mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Jika perusahaan memesan kayu berlebih, tidak ada pengeluaran persediaan seperti pemeliharaan, biaya gudang, atau sewa gudang.

Karena kuantitas yang dibeli dapat memenuhi kebutuhan dengan biaya terendah, pendekatan EOQ dapat dianggap sebagai metode pemesanan yang paling optimal dan hemat biaya.

Pendekatan EOQ, di sisi lain, hanya berlaku jika:

  • Biaya pemesanan selalu sama.
  • Komoditas yang dipesan tidak berhubungan dengan barang lain (independen)
  • Dengan jaminan, pesanan telah diterima.
  • Jumlah bahan baku yang dibutuhkan dapat dihitung dan dipastikan.
  • Biaya pemeliharaan persediaan adalah sama per unit.
  • Biaya barang tidak berfluktuasi (konstan).
  • Pasokan komoditas tidak dibatasi.
  • Kerusakan pada item tidak mungkin terjadi.
  • Jumlah persyaratan tetap konstan.

2. Metode MRP (Material Requirement Planning)

mrp

  • Pendekatan perencanaan kebutuhan material (MRP) adalah strategi perencanaan dan pengendalian persediaan untuk memastikan bahan baku selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan.
  • Tidak hanya itu, pendekatan MRP juga berupaya untuk meminimalkan persediaan.
  • Karena biaya persediaan lebih rendah bila jumlahnya lebih sedikit, biaya persediaan juga akan lebih rendah.
  • Perencanaan semacam ini dapat mencakup kalender pembelian, jadwal produksi, dan jadwal pasokan bahan.
  • Teknik MRP menentukan jumlah material yang dibutuhkan, jadwal produksi, dan bahkan memberikan perlindungan terhadap kejadian yang tidak menguntungkan.

Pendekatan MRP ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  • Memberikan rincian kapasitas pabrik.
  • Mengurangi ketidakakuratan dalam menghitung permintaan sekaligus berfungsi sebagai referensi. Perencanaan kuantitas dalam produksi.
  • Tingkatkan dan perbarui nomor pesanan dan inventaris.
  • Pertahankan jumlah dan harga persediaan yang tepat.
  • Akan mampu memenuhi kebutuhan material yang datang secara bergelombang.

3. Metode JIT (Just-in-Time) 

  • Metode JIT juga dikenal sebagai metode just-in-time, yaitu menghilangkan kebutuhan perusahaan untuk membawa atau memelihara persediaan.
  • Ini menunjukkan bahwa persediaan adalah nol (0) atau mendekati nol.
  • Jika perusahaan tidak memiliki persediaan, maka biaya persediaan tidak akan ditanggung oleh perusahaan.

Bagaimana sebuah perusahaan dapat melakukan produksi jika tidak memiliki persediaan bahan baku?

Manfaat dari teknik just-in-time adalah sebagai berikut:

  • Strategi ini bertujuan untuk mendatangkan bahan baku hanya pada saat dibutuhkan.
  • Pada waktu yang tepat.
  • Dan dalam jumlah yang tepat untuk menghindari sisa makanan.

Akibatnya, perusahaan tidak memiliki waktu untuk menahan atau menyimpan persediaan karena bahan baku datang hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang cukup untuk memastikan tidak ada yang tersisa.

Bagaimana Anda melakukannya?

Pemasok bahan baku sekarang menjadi mitra komersial utama. Ini harus diperlakukan seolah-olah pemasok adalah karyawan perusahaan. Hanya "seolah-olah" yang harus diingat.

Pendekatan kepada pemasok ini harus diikuti untuk membangun hubungan yang kuat dengan mereka dan memeliharanya untuk kebutuhan jangka panjang perusahaan.

Pemasok tidak boleh dimanfaatkan demi uang cepat.

Jika telah terjalin hubungan yang erat antara pemasok dengan perusahaan, maka pemasok akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan kapanpun dan dimanapun permintaan tersebut muncul.

4. Analisis Metode ABC

  • Metode analisis ABC merupakan sistem klasifikasi persediaan yang dibedakan berdasarkan nilainya.
  • Nilai persediaan yang dimaksud adalah nilai persediaan total, bukan nilai persediaan atau harga per unit.
  • Persediaan akan dibagi ke dalam kategori.
  • Kelas A, kelas B, kelas C, dan seterusnya adalah contohnya.

Mengapa kelas seperti ini diperlukan?

Jenis pembagian kelas ini digunakan untuk mempermudah penanganan persediaan perusahaan.

Setiap item inventaris diberikan perlakuan unik.

Contohnya adalah Pabrik mebel.

Kayu, cat (coating), paku, dan mur merupakan contoh persediaan bahan baku.

Pasokan kayu, meski jumlahnya tidak sebanyak cat dan paku. Namun nilai nominal kayu adalah yang paling besar.

Perusahaan dapat mengklasifikasikannya ke dalam kelas A.

Perawatan cat dan kuku tidak sama dengan perawatan kayu.

Kayu adalah bahan yang lebih tahan lama. Tidak disarankan untuk menyimpan kayu berkualitas tinggi di lingkungan yang lembab. Tidak dapat terendam air. 

Tidak boleh ditumpuk terlalu padat sehingga memakan banyak ruang gudang. Berhati-hatilah agar tidak menjadi makanan rayap. Kadar air kayu harus dijaga, begitu juga dengan perlakuan khusus lainnya.

Argumennya, ada pengeluaran tambahan untuk mempertahankan kualitas kayu.

Cat dan pelapis lainnya, seperti thinner, melamin, dan bahan sejenis, memiliki nilai yang lebih rendah dari kayu tetapi lebih tinggi dari paku dengan jumlah per unit yang signifikan.

Kelas B dapat berisi cat atau pelapis.

Meskipun ada cara unik untuk menjaga cat dalam kondisi baik, pada umumnya lebih mudah menyimpan cat di gudang daripada kayu, paku, dan mur.

Paku adalah yang paling melimpah dalam hal kuantitas, tetapi mereka paling tidak berharga dalam hal nilai jika dibandingkan dengan kayu dan cat.

Kuku dapat diklasifikasikan sebagai kelas C.

Penyimpanan kuku sederhana dan hanya memakan area kecil di ruangan; singkirkan saja. Di mana saja. Itu tidak memerlukan perawatan khusus.

Bahkan jika ada sesuatu yang salah tempat atau rusak, nilai nominalnya tidak berlebihan.

Kelas-kelas ini tidak ditentukan dan dapat berubah tergantung pada manajemen dan peraturan perusahaan.

Kelas A, kelas B, dan kelas C bukan satu-satunya pilihan. Kalau perlu bisa kelas D dan lain sebagainya.

Nilai persediaan, biaya persediaan per jenis barang, dan kompleksitas serta risiko kerusakan di gudang penyimpanan adalah semua faktor yang perlu dipertimbangkan.

5. Metode Tinjauan Berkala

Cara pemesanan barang pada selang waktu atau selang waktu yang sama adalah dengan pendekatan metode tinjauan berkala.

Pesanan material ditempatkan secara teratur sehingga manajemen keuangan dapat memperkirakan dan merencanakan pengeluaran yang akan dikeluarkan.

Salah satu manfaat dari strategi penilaian berkala ini adalah mengurangi volatilitas kebutuhan permintaan dan penawaran.

Strategi ini juga mudah diterapkan karena tidak memiliki proses administrasi yang panjang karena pemesanan persediaan direncanakan secara berkala.

Namun, strategi ini memiliki sejumlah kelemahan.

Salah satunya adalah jumlah pemesanan material sangat bergantung pada jumlah persediaan yang tersedia pada saat pemesanan, sehingga jumlah pemesanan yang dilakukan tidak selalu sama.

Hal ini dapat menyebabkan stok persediaan habis terlebih dahulu, sebelum waktu pemesanan material berikutnya tiba.

Akibatnya, persediaan pengaman yang signifikan atau persediaan persediaan untuk berjaga-jaga diperlukan.

Akibatnya, biaya penyimpanan yang tinggi terkadang diperlukan.

Hubungan antara Manajemen Inventaris dan Manajemen Departemen Lain

Pendekatan Manajemen Persediaan

Manajemen inventaris memainkan peran penting dalam fungsi manajemen lainnya. Manajemen persediaan ditangani oleh beberapa departemen manajemen, antara lain:

a. Pembelian 

Manajemen persediaan berkaitan dengan prioritas dan orientasi manajer pembelian ketika memperoleh produk dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga diskon dari pemasok (supplier).

Ketika Anda membeli banyak barang, pemasok akan sering memberi Anda diskon dan bahkan pengiriman gratis ke gudang perusahaan.

b. Kontrol Produksi

Hubungan ini sangat jelas. Manajemen produksi tentunya membutuhkan pasokan bahan baku untuk memulai kegiatan produksi.

Kebutuhan bahan baku harus dipenuhi sesuai dengan kriteria kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan, menurut manajemen produksi.

Komunikasi antara kedua divisi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produksi barang berjalan dengan lancar dan barang dengan kualitas terbaik diproduksi.

c. Administrasi Keuangan

Sulitnya memperoleh materi terkait erat dengan interaksi dengan manajemen keuangan.

Efektivitas anggaran belanja selalu menjadi prioritas bagi manajemen.

Manajemen keuangan lebih tertarik untuk membeli komoditas dalam jumlah besar karena mereka mungkin dapat menegosiasikan biaya yang lebih rendah dari pemasok.

Namun, dalam keadaan lain, manajemen keuangan mungkin menyarankan pembelian dalam jumlah kecil dan menyesuaikan dengan kebutuhan untuk menghindari persediaan yang terlalu banyak.

Manajemen persediaan, dalam hubungannya dengan manajemen lain, bertanggung jawab untuk menjaga perputaran persediaan tetap up to date dengan melakukan rekonsiliasi dengan manajemen lain yang berhubungan dengan persediaan.

Posting Komentar untuk " Pendekatan Manajemen Persediaan"