Ad Unit (Iklan) BIG

Contoh Prosedur Penanganan Produk Reject (NG) Di Gudang

Post a Comment

Prosedur Penanganan Produk Reject (NG) Di Gudang

Salah satu faktor yang bisa menjadi penyebab berkurangnya profit atau laba perusahaan adalah tingginya produk reject yang terjadi dalam proses produksi. Oleh karena itu tingginya persentase produk reject selalu menjadi isu hangat yang sering di bahas dalam internal meeting di perusahaan.

Pada dasarnya produk reject sendiri terbagi menjadi dua kategori, yaitu:
  • Reject Incoming
  • Reject Produksi
Kedua jenis reject ini memiliki cara penanganan yang berbeda satu sama lainnya.

REJECT INCOMING

Reject incoming adalah reject yang terjadi bukan di sebabkan karena proses produksi melainkan di sebabkan oleh vendor atau suplier. Reject incoming adalah reject yang bisa di mintakan penggantinya kepada vendor atau suplier yang mensupply barang tersebut. Dalam beberapa kasus, ada suplier yang minta di potong langsung dari tagihan mereka (deduction), namun ada juga yang mengirimkan barang penggantinya sesuai dengan junlah reject yang di klaim kepada mereka sehingga tidak perlu memotong tagihan mereka.

Reject incoming ini sebenarnya bisa di deteksi sejak awal kedatangan barang, yakni ketika di lakukan inspeksi (pengecekan ) kualitas barang  oleh QC Incoming. Jika di temukan sejumlah reject sesuai dengan metode sampling AQL QC, maka status barang akan di hold oleh QC dan akan dibuatkan laporan untuk di teruskan ke suplier. Selama di hold, maka barang tersebut tidak boleh dipakai sebelum ada keputusan dari supliernya.

Dalam kasus reject incoming ini, suplier biasanya akan segera merespon laporan yang dikirimkan kepada mereka dan akan segera memutuskan apa yang harus dilakukan. Ada beberapa opsi yang biasanya mereka tawarkan diantaranya:
  • Barang tersebut di kembalikan kepada mereka (Retur)
  • Barang tersebut di sortir (dengan catatan biaya sortir di cash kepada mereka), dan barang yang tidak bisa di pakai di catat jumlahnya, dan kemudian mereka akan mengirimkan penggantinya sejumlah reject yang tercatat tersebut.
  • Barang tersebut di scrap (dalam kasus barang tersebut tidak sesuai spesifikasi) dan mereka tidak mau di kembalikan karena ongkos kirimnya jauh lebih mahal dari harga barang yang reject tersebut.
Selain reject incoming kedatangan barang, ada juga reject incoming yang terjadi ketika barang tersebut di cek oleh operator dan qc produksi sebelum barang yang dikirim dari gudang di pakai untuk proses produksi.

Kasus ini terjadi ketika pada saat pengecekan kualitas barang saat kedatangannya tidak terdeteksi oleh QC incoming. Artinya ketika mereka melakukan random sampling memang tidak ditemukan reject tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena reject tersebut berada di karton box (packaging) yang lain yang tidak terambil ketika di lakukan sampling oleh mereka.

Reject incoming yang seperti ini juga bisa di klaim kepada suplier untuk di mintakan barang penggantinya setelah terlebih dahulu di buatkan laporannya. Alasannya sangat jelas, karena metode pengecekan yang dipakai oleh quality incoming adalah random sampling berdasarkan AQL dan bukan metode pengecekan 100%, sehingga sangat mungkin hal tersebut bisa terjadi.

REJECT PRODUKSI

Reject produksi adalah reject yang terjadi karena diakibatkan oleh proses produksi. Reject jenis inilah yang bisa menjadi penyebab berkurangnya keuntungan perusahaan, karena reject ini tidak bisa di klaim kepada suplier dan harus di tanggung oleh perusahaan. Semakin tinggi persentase reject yang terjadi karena proses produksi maka akan semakin besar pula keuntungan perusahaan akan berkurang.

Kerugian akibat reject produksi ini bisa menjadi berlipat - lipat nilainya ketika barang yang reject tersebut sudah terlanjur di rakit atau di asembly dengan wujud setengah jadi. Mengapa ? Karena barang atau komponen lain yang tidak reject mau tidak mau ikut menjadi reject karena sudah terpasang dalam satu set dengan barang atau komponen yang reject tersebut.

Selain di area final asssembly, reject produksi juga bisa terjadi di divisi lain di dalam perusahaan. Sebagai contoh misalnya untuk perusahaan yang melakukan casting barang sendiri (foundry) atau pengecoran. Jika persentase reject part pengecoran tinggi maka itu akan menjadi kerugian untuk perusahaan.

Kerugian akibat reject produksi antara lain:
  • Tertundanya pengiriman barang ke pelanggan akibat tidak bisa diselesaikannya order dari pelanggan tersebut.
  • Biaya kerja ulang yang harus di tanggung oleh perusahaan dalam wujud biaya tenaga kerja, biaya bahan pendukung,  biaya listrik dan sebagainya.
Dengan adanya kerugian tersebut, maka tidak mengherankan jika monitoring terhadap reject produksi ini harus menjadi perhatian ekstra bagi perusahaan. Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara terus - menerus dan berkesinambungan agar penyebab reject tersebut bisa teratasi dan persentase reject produksi bisa di tekan hingga ke level yang serendah mungkin.

Prosedur Penanganan Produk Reject (NG) Di Gudang

Dan sebagai referensi untuk Anda, berikut ini saya akan bagikan kepada Anda contoh prosedur Penanganan Produk Reject (NG) Di Gudang, sesuai dengan standard ISO 9001:2015, sebagai berikut:

1. TUJUAN

Prosedur ini bertujuan untuk menetapkan sistem dan tanggung jawab dalam penanganan produk unit atau spare part yang telah dinyatakan tidak sesuai standar (NG) di gudang baik dari pemasok dan dari proses produksi.

2. RUANG LINGKUP

Prosedur ini mencakup dan berlaku untuk seluruh produk unit atau spare part yang masuk dan di terima oleh gudang PT. ABC

3. REFERENSI

3.1. ISO 9001 : 2015, Klausul 8.7 Pengendalian output yang tidak sesuai

4. DEFINISI

4.1. Produk NG dari pemasok adalah produk NG yang berasal dari proses di pemasok dan bisa direturn atau meminta penggantinya.

4.2. Produk NG dari produksi adalah produk NG yang di sebabkan oleh proses produksi.

4.3. NG adalah singkatan dari No Good yaitu status produk atau part yang tidak sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan.

4.4. NG Reject adalah produk atau part NG yang tidak bisa direpair lagi , bisa dilakukan proses daur ulang dan atau pembuangan / penjualan sebagai limbah produksi.

4.5. NG Repair adalah produk atau part NG yang masih bisa direpair menjadi produk atau part OK

5. PERFORMA INDIKATOR

5.1. Produk NG di tempatkan dan di simpan di gudang terpisah dari produk OK.
5.2. Data NG reject di sistem dan gudang selalu update.
5.3. Produk NG reject secara berkala dilakukan penyerahan ke bagian General Affair.

6. DAMPAK RESIKO

6.1. Produk NG dapat tercampur dengan produk OK.
6.2. Data NG reject di sistem dan gudang tidak update.
6.3. Area penempatan produk NG reject tidak cukup.

7. RINCIAN PROSEDUR

7.1. Supervisor Gudang menerima informasi produk tidak sesuai (NG ) berupa :

7.1.1. Memo Quality Incoming dari QC Incoming
7.1.2. Lembar Penyerahan Barang (LPB) penukaran produk NG dari Bagian Produksi

7.2.  Supervisor Gudang melakukan verifikasi informasi dalam Memo Quality Incoming untuk produk unit atau part NG dari supplier lokal ,bagian Gudang membuat surat jalan return dan menyerahkan surat jalan return dan produk unit atau part NG ke supplier. Jika kondisi mendesak / urgent dilakukan proses sortir dan rework oleh supplier di PT.ABC.

7.3. Supervisor Gudang melakukan verifikasi informasi dalam Memo Quality Incoming untuk produk unit atau part NG dari supplier import mengacu pada keterangan dalam memo quality incoming tersebut, yaitu :

7.3.1. Untuk produk unit atau part NG Reject , pastikan ada label merah QA Rejected dan segera ditempatkan ke area produk / part reject.

7.3.2. Untuk produk unit atau part dengan rekomendasi sortir 100 % maka :

Pastikan ada label kuning QA On Hold
  • Gudang melakukan sortir 100% untuk NG secara visual terhadap sisa stok barang. 
  • Hasil pemeriksaan QC Incoming dan jika NG dimensi dapat berkoordinasi dengan QC Incoming untuk proses sortirnya.
Produk atau part hasil proses sortir dilakukan verifikasi QC yaitu :
  • Produk atau part OK , masuk stock produk /part OK
  • Produk atau part NG Reject ,diberikan label merah atau keterangan yang jelas dan segera ditempatkan di area produk atau part NG Reject.
  • Produk atau part NG Repair ,diberlakukan seperti poin 7.3.3 dibawah.
7.3.3 Untuk produk unit atau part dengan rekomendasi repair / rework , pastikan ada label kuning QC On Hold , bagian Gudang dapat melakukan sortir secara internal dan untuk proses sortir yang melibatkan bagian lain Gudang dapat mengajukan permintaan proses sortir pada Lembar Permintaan Proses Repair. Hasil proses repair dilakukan verifikasi oleh Quality Control untuk memastikan hasil
Repair sesuai dengan standar yang ditetapkan.

7.4 Supervisor Gudang melakukan verifikasi informasi dalam LPB penukaran produk NG dari bagian produksi yaitu :

7.4.1. Untuk produk unit atau part NG Reject pastikan dengan label merah atau keterangan
yang jelas dan segera ditempatkan di area produk atau part NG Reject.

7.4.2. Untuk produk unit atau part status NG Repair pastikan dengan label kuning atau keterangan yang jelas dan segera ditempatkan diarea yang ditentukan . Gudang dapat melakukan proses repair internal dan untuk proses sortir yang bagian lain. Gudang dapat mengajukan permintaan proses sortir pada Lembar Permintaan Proses Repair.

7.5. Bagian Gudang akan melakukan pemotongan stock di sistem sesuai dengan jumlah yang di laporkan dalam Memo Quality Incoming dan LPB Penukaran dari bagian produksi, untuk produk atau part NG Reject dari proses produksi maupun NG Reject dari pemasok.

7.6. Bagian Gudang memisahkan barang atau part reject berdasarkan jenis bahannya atau kategori lainya dan ditempatkan diarea yang ditentukan. Bagian Gudang secara berkala menyerahkan produk NG reject tersebut ke bagian General Affair (GA) , menggunakan Form Lembar Penyerahan Barang  dan di setujui oleh Warehouse Manager atau Head SCM.

7.7. Bagian General Affair (GA) melakukan proses penerimaan produk NG Reject sesuai Prosedur Pengelolaan Limbah.

8. LAMPIRAN

8.1. Memo Quality Incoming
8.2. Lembar Penyerahan Barang (LPB)
8.3. Lembar Permintaan Proses Repair (LPPR)

Itulah uraian artikel tentang Contoh Prosedur Penanganan Produk Reject (NG) Di Gudang. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan Anda.

Pujakesuma
Hi there, my name is Pujakesuma. I'm a blogger from Indonesia. I like travelling, blogging, reading a book, and listen to the music. Nama Saya Pujakesuma, Seorang blogger yang menyukai dunia Blogging, Travelling, Membaca dan Mendengarkan musik

Related Posts

Post a Comment

Subscribe To Our Newsletter