-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Pengertian Metode FIFO, LIFO Dan Rerata Di Gudang

Post a Comment

Metode FIFO, LIFO Dan Rerata Di Gudang

Dalam Warehouse Management System (WMS) kita mengenal dua macam istilah yang sudah sangat familier digunakan, yaitu istilah FIFO (First In First Out) dan LIFO (Last In Firt Out). Bagaimanakah sebetulnya kedua istilah tersebut di aplikasikan dalam pengelolaan material didalam gudang. Untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dan lebih detail, silahkan membaca hingga selesai uraian artikel berikut ini.

PENGERTIAN FIFO

Apakah  Yang Dimaksud Dengan First In First Out (FIFO)?

First In First Out, secara umum dikenal dengan sebutan FIFO, yakni aset-manajemen dan metode penilaian di mana aset yang dihasilkan atau diakuisisi pertama dijual, digunakan, atau dibuang lebih dahulu. Untuk tujuan tarif pajak, metode FIFO mengasumsikan bahwa aset dengan biaya tertua disertakan dalam biaya laporan pendapatan barang yang terjual. Aset inventaris lainnya dicocokkan dengan aset yang baru-baru ini dibeli atau diproduksi.

Bagaimanakah Metode First In  First Out (FIFO) Bekerja?

Metode FIFO digunakan untuk tujuan asumsi aliran biaya. Dalam dunia manufaktur, sebagai item atau barang persediaan yang dijual, maka biaya yang terkait dengan produk tersebut harus diakui sebagai biaya produksi. Di bawah metode FIFO, diasumsikan bahwa biaya persediaan yang dibeli pertama akan diakui sebagai biaya lebih dahulu. Nilai uang Total inventaris barng menurun dalam proses ini karena inventaris telah dihapus dari kepemilikan perusahaan. Biaya yang terkait dengan persediaan dapat dihitung dalam beberapa cara, dimana salah satunya adalah metode FIFO ini.

Contoh Penerapan Metode FIFO

Barang - barang inventaris ditetapkan sebagai biaya dan siap untuk dijual. Hal ini dapat terjadi melalui pembelian barang persediaan atau biaya produksi, dan pemanfaatan tenaga kerja. Biaya yang ditetapkan tersebut didasarkan pada urutan di mana produk digunakan. Dan untuk metode FIFO, hal ini didasarkan pada item atau barang apa yang tiba pertama maka barang itulah yang akan diakui sebagai biaya terlebih dahulu. 

Contoh, misalnya ada 100 item didalam gudang yang dibeli dengan harga Rp. 10.000 dan  ada 100 lebih item lainnya yang dibeli dengan harga Rp. 15.000. Maka dalam metode FIFO akan menetapkan biaya item pertama yang dijual kembali berasal dari item yang di beli dengan harga Rp.10.000 terlebih dahulu. Setelah 100 item yang dibeli dengan harga tersebut dijual seluruhnya, maka kemudian barulah biaya item akan diakui berasal dari item yang dibeli dengan harga Rp. 15.000, dan itu terlepas dari setiap pembelian inventaris tambahan yang dilakukan.

Penerapan metode FIFO mengikuti logika bahwa untuk menghindari item usang atau kadaluarsa, maka sebuah perusahaan akan menjual item tertua dari barang persediaan yang ada didalam gudang mereka dan mempertahankan item terbaru dalam persediaan. Meskipun metode penilaian inventaris aktual yang digunakan tidak perlu mengikuti aliran aktual inventaris melalui perusahaan, entitas haruslah dapat mendukung mengapa kemudian memilih penggunaan metode penilaian inventaris tertentu.

Pertimbangan Khusus Metode FIFO

Situasi dan kondisi perekonomian yang khas menyebabkan terjadinya inflasi dan kenaikan harga barang, termasuk bahan baku persediaan. Dalam situasi ini, jika metode FIFO menetapkan biaya tertua untuk biaya produk yang dijual, maka biaya tertua ini secara teoritis akan memiliki harga lebih rendah daripada persediaan terbaru yang dibeli ketika harga meningkat dan sudah naik. Artinya biaya produk ini lebih rendah dan menghasilkan pendapatan bersih yang lebih tinggi. Selain itu, karena inventaris terbaru dibeli dengan harga yang umumnya lebih tinggi, saldo inventaris akhir juga akan meningkat. 

Jadi dalam sebuah pembukuan, penerapan metode FIFO harus di aplikasikan dengan benar agar mendapatkan harga pokok produksi yang betul - betul sesuai dengan keadaan sebenarnya.

PENGERTIAN LIFO


Metode FIFO, LIFO Dan Rerata Di Gudang

Apakah  Yang Dimaksud Dengan Last In First Out (LIFO)?

Metode penilaian barang persediaan yang berlawanan dengan metode FIFO diatas adalah  metode LIFO, di mana prinsip dasarnya adalah item terakhir yang dibeli atau diperoleh adalah item pertama yang harus keluar. Dalam inflasi ekonomi, hal ini mengakibatkan biaya rendah pendapatan bersih dan saldo dalam persediaan menjadi lebih rendah bila dibandingkan dengan metode FIFO.

Konsep Dasar Metode LIFO

Last In Firt Out  (LIFO) adalah metode yang digunakan untuk memperhitungkan biaya persediaan yang mencatat item yang paling baru-baru ini diproduksi sebagai barang yang dijual pertama. Di bawah metode LIFO, maka biaya produk terbaru yang dibeli (atau diproduksi) adalah yang pertama dikeluarkan sebagai biaya barang yang dijual. Hal tersebut berarti biaya yang lebih rendah dari produk yang lebih tua akan dilaporkan sebagai persediaan.

Dua metode alternatif dari barang persediaan termasuk First In First Out (FIFO), di mana item tertua persediaan dicatat sebagai dijual pertama, dan biaya rata-rata metode, yang mengambil rata-rata tertimbang dari semua unit yang tersedia untuk dijual selama periode akuntansi dan kemudian menggunakan biaya rata-rata untuk menentukan  saldo akhir persediaan.

Memahami Metode Last In First Out (LIFO)

Metode Last In First Out (LIFO) hanya digunakan di Amerika Serikat di mana semua tiga metode biaya persediaan dapat digunakan di bawah prinsip akuntansi yang diterima secara umum disana karena dalam standar pelaporan keuangan internasional melarang penggunaan metode LIFO. 

Perusahaan yang menggunakan penilaian persediaan LIFO biasanya mereka dengan persediaan yang relatif besar, seperti pengecer (Retailer) atau dealer otomotif, yang dapat mengambil keuntungan dari pajak yang lebih rendah (ketika harga naik) dan arus kas yang lebih tinggi. Banyak perusahaan  di AS lebih memilih untuk menggunakan metode FIFO, karena jika perusahaan menggunakan metode LIFO maka biaya pajak juga harus menggunakan LIFO ketika laporan hasil keuangan kepada pemegang saham, yang akan menurunkan laba bersih perusahaan dan pada akhirnya menurunkan laba per saham.

PERSEDIAAN BIAYA RERATA

Metode rerata biaya inventaris menetapkan biaya yang sama untuk setiap item yang digunakan. Dalam metode rerata, maka biaya dihitung dengan membagi biaya barang dalam persediaan dengan jumlah total item yang tersedia untuk dijual. Hal ini menghasilkan pendapatan bersih dan akhir inventaris saldo antara FIFO dan LIFO.

Pelacakan Inventaris Tertentu

Pada akhirnya, pelacakan inventaris tertentu digunakan ketika semua komponen diatribusikan ke produk jadi telah diketahui. Jika semua potongan tidak diketahui, maka penggunaan metode apa pun dari FIFO, LIFO, atau rata-rata biaya yang sesuai.

Hubungan Metode LIFO, Inflasi Dan Laba Bersih

Ketika terjadi situasi nol inflasi, ketiga metode biaya persediaan menghasilkan hasil yang sama. Akan tetapi jika situasi inflasi tinggi, maka pilihan metode akuntansi dapat secara dramatis mempengaruhi rasio valuasi. FIFO, LIFO, dan biaya rerata akan memiliki dampak yang berbeda, antara lain:
  • Metode FIFO memberikan indikasi yang lebih baik dari nilai persediaan berakhir (di dalam neraca keuangan), akan tetapi juga meningkatkan laba bersih karena persediaan yang mungkin beberapa tahun digunakan. Meningkatkan laba bersih adalah hal yang baik, akan tetapi dapat meningkatkan pajak yang perusahaan yang harus dibayarkan.
  • Metode LIFO bukanlah indikator yang baik untuk mengakhiri nilai inventaris karena dapat mendasari nilai inventaris. Dalam metode LIFO hasil dalam pendapatan bersih yang lebih rendah (dan pajak). Namun, ada lebih sedikit inventaris yang menurun di bawah metode LIFO selama terjadinya inflasi.
  • Biaya rerata menghasilkan hasil yang jatuh di suatu tempat antara FIFO dan LIFO atau di tengah - tengahnya.
Contoh Praktis Metode  LIFO vs. FIFO

Kita asumsikan perusahaan A memiliki 10 item barang. Lima item barang pertama dibeli dengan harga Rp. 10.000 masing-masing dan tiba dua hari yang lalu. Lima item barang terakhir dibeli dengan biaya Rp.20.000 masing-masing dan tiba satu hari yang lalu. Berdasarkan metode LIFO manajemen persediaan, maka item barang terakhir adalah yang pertama yang akan dijual. 

Jika ada tujuh item barang  yang dijual, berapa yang dapat di catatkan sebagai biaya?

Setiap item barang memiliki harga penjualan yang sama, sehingga pendapatan adalah sama, tetapi biaya item barang didasarkan pada metode persediaan yang dipilih. Berdasarkan metode LIFO, inventarisasi terakhir adalah persediaan pertama yang terjual. Ini berarti item barang yang dibeli dengan biaya Rp. 20.000 akan dijual pertama. Perusahaan kemudian menjual dua lebih dari item barang yang di beli dengan harga Rp. 10.000. Maka secara total, biaya item barang di bawah metode LIFO adalah Rp. 12.000, yakni  lima dari item barang yang dibeli dengan harga Rp. 20.000 dan dua dari item barang yang dibeli dari harga Rp. 10.000. 

Sebaliknya, dengan menggunakan metode FIFO, item barang dari harga Rp. 10.000  yang dijual pertama, diikuti oleh item barang dari harga Rp. 20.000. Jadi, biaya item yang dijual akan dicatat sebagai Rp. 9.000, yakni  lima item dari harga Rp. 10.000  dan dua item dari harga Rp. 20.000.

Itulah sebabnya dalam periode kenaikan harga, LIFO menciptakan biaya yang lebih tinggi dan menurunkan pendapatan bersih, yang juga mengurangi penghasilan kena pajak. Demikian pula, dalam periode penurunan harga, LIFO menciptakan biaya yang lebih rendah dan meningkatkan laba bersih, yang juga meningkatkan pendapatan kena pajak.

Demikianlah artikel tentang Pengertian Metode FIFO, LIFO Dan Rerata Di Gudang. Semoga berguna dan bermanfaat untuk Anda.
Pujakesuma
Hi there, my name is Pujakesuma. I'm a blogger from Indonesia. I like travelling, blogging, reading a book, and listen to the music. Nama Saya Pujakesuma, Seorang blogger yang menyukai dunia Blogging, Travelling, Membaca dan Mendengarkan musik

Related Posts

Post a Comment

Subscribe To Our Newsletter